Rabu, 29 Januari 2014

My superheroes



“Orang tua”
Mungkin cuma itu satu kalimat yang selama ini aku hormati lebih dari apapun. Satu kalimat yang memiliki jutaan makna, melebihi apapun yang pernah terlintas di benak. Siapa lagi yang mau berkorban besar untukku selain orang tua ?

Mama, wanita yang tujuh belas tahun lalu bertaruh hidup mati untuk melahirkan ku. Wanita yang diam-diam meneteskan air mata setiap aku menangis karena dimarahi. Wanita yang rela menunda laparnya hanya untuk menungguku makan. Wanita yang selalu menunggu ku pulang diteras depan. Wanita yang tak pernah tidur ketika aku belum pulang kerumah. Wanita yang selalu memasakkan apapun yang ku minta. Wanita yang siap menemaniku berdesak-desak belanja. Wanita yang rela makan sedikit hanya untuk melihat ku kenyang. Wanita yang bahkan tak membeli pakaian baru hanya untuk membelikanku baju tidur baru.


Siapa lagi wanita yang pantas untuk ku cium kakinya ? Mama, cuma kamu yang pantas.

Abah, lelaki yang tujuh belas tahun lalu menunggu kelahiranku dengan gelisah. Lelaki yang tak pernah benar-benar bisa memarahiku. Lelaki yang selalu terlebih dahulu meminta maaf sehabis memarahiku. Lelaki yang selalu takut aku pulang malam. Lelaki yang selalu mengkhawatirkanku. Lelaki yang selalu menangis dalam doanya ketika magrib datang. Lelaki yang selalu menunggu kabar dariku. Lelaki yang selalu bertanya berbagai hal mengenaiku. Lelaki yang rela meninggalkan nikmat rokok demi anak dan istrinya. Lelaki yang selalu memberi tahu ku berbagai hal. Lelaki yang mengajari amalan baik kepadaku.

Siapa lagi lelaki yang pantas memimpin sholatku selain abah ? tidak ada penggantinya kecuali kamu, abah.

          Aku ingat ketika bulan puasa. Saat itu sahur, kami bertiga makan diruang tamu sambil menonton TV. Aku bertanya “Bah, boleh Sekar nanti sore ikut buka bersama ?” abah melarang, takut aku pulang terlalu malam sampai melupakan tarawih. Tapi aku merajuk, aku ingin ikut, abah tak mau mengerti. Aku menunduk, air mata menetes, tapi abah tak tau. Perutku tiba-tiba kenyang dan masakan mama tiba-tiba terasa hambar, aku menangis, aku malu. Sudah besar tapi masih cengeng ? tak ingin dilihat abah aku pun meninggalkan ruang tamu dan menuju kamar, dikamar aku puas mengeluarkan air bening itu.

          Tiba-tiba abah masuk kekamar sambil berkata “Nduk, nangis ?” aku cuma diam, abah bertanya lagi “Nangis ya nduk ?” kali ini suaranya bergetar. Abah ikut menangis ?
“Sekar sudah hampir tujuh belas tahun Bah. Sudah dewasa. Sudah bisa jaga diri sendiri”
“Iya abah tau, abah minta maaf.”

          Kemudian abah memeluk dan mencium keningku. Pelukan seorang pemimpin keluarga, pelukan melindungi. Takut aku rusak, takut aku hancur. Abah mungkin terlalu over protektif terhadap keluarga, tapi itu karena beliau sayang. Aku tersadar dalam perlukannya bahwa itulah yang berusaha ia lakukan. Ia berusaha menjadi kepala keluarga yang dapat diandalkan. Memang, tanpamu aku bisa apa Abah ?

          Aku ingat, tahun lalu ketika netbook ku rusak dan harus diganti. Aku tak minta dibelikan baru, hanya berkata “Ini kalau diservice mahal, hampir sama kayak beli baru. Mending beli baru aja sekalian” tapi mama keberatan, untuk kebutuhan sehari-hari saja pas-pasan, bagaimana membeli netbook baru ? kemudian mama dan abah berunding, harus bagaimana ? karena aku memang memerlukan netbook untuk mengerjakan tugas-tugas ku mama dan abah pun membelikan aku netbook. Tak lama setelah membeli netbook baru pun mama masuk kedalam kamar, duduk ditepi ranjang dan berkata

          “Kar, suka netbook barunya ?” pertanyaan aneh, sudah pasti aku jawab “Ya suka lah ma”.
“Dijaga baik-baik, dirawat jangan ditaruh sembarangan. Kamu tau kan mama sama abah sudah pensiunan. Buat keseharian aja pas-pasan, kita sudah enggak bisa kayak dulu lagi yang rusak sedikit langsung beli baru, kita sekarang harus hemat. Kalau pun ada uang lebih pasti belinya laptop, bukan netbook. Dinikmati dulu apa yang ada, jangan disepelekan”. Suara mama bergetar, aku tau mama menangis. Saat itu aku sadar, mama menangis bukan karena merasa tidak suka dengan netbook baruku sementara mama saja tak pernah membeli baju baru walaupun baju lamanya robek penuh tambalan. Mama bukannya marah karena harus lebih irit karena uang pensiun bulan itu dipakai untuk membeli netbook baru. Mama menangis karena sedih tak bisa membelikan barang yang lebih bagus untuk keperluan sekolahku, mama menangis karena merasa sedih aku tak bisa sebanding dengan teman-temanku.

          Mama juga selalu berkata “Hidup jangan selalu memandang keatas, tapi pandang kebawah. Lihat yang kurang dari kita dan sukuri apa yang kita punya sedang ia tidak. Jangan selalu memandang ke atas dan mengeluh bahwa kita tak bisa seperti itu. Kar, jangan berusaha mengikuti teman-temanmu, jangan juga malu bila tak bisa seperti mereka”.

          Ma, aku tak perlu memiliki apapun yang dimiliki teman-temanku. Karena memiliki mu lebih dari cukup bagiku.

          Memang, sekarang kita sudah tak seerat dulu lagi ketika aku masih kecil. Mungkin waktu yang memisahkan. Aku sadar sekarang terasa ada jarak diantara kita, kini ku lebih asik berkomunikasi dengan gadgetku daripada sekedar bercanda tawa dengan kalian. Sekarang aku lebih asik bertemu dengan teman-temanku daripada ngumpul dengan keluarga. Bukan, bukannya aku membangun jarak itu. hanya saja waktu membawa banyak perubahan, aku memerlukan lebih banyak waktuku sendiri, aku ingin mandiri, sudah saatnya aku dewasa karena suatu saat nanti akan ada seseorang yang aku panggil “anak” penuh kasih sayang seperti kalian memanggilku sekarang.

          Mama, Abah. Percayalah dimanapun, kapanpun, dan bagaimana durhakanya aku terhadap kalian, aku mencintai kalian.

7 komentar:

  1. Beruntung ya kalo bisa akrab sama orang tua. Gue sendiri jarang banget ngobrol sama orang tua, habisnya kita sibuk sama kesibukan masing-masing. Tapi bagaimanapun, sebagai anak pastinya sayang banget sama orang tua. :D

    BalasHapus
  2. Beruntung banget ya kalo bisa akrab sama orang tua. Gue sendiri jarang banget ngobrol sama orang tua, kita sibuk masing-masing. Tapi bagaimanapun, sebagai anak pastinya sayang banget sama orang tua. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. gue juga sebenernya kurang akrab sama orang tua. tapi masalah sayang sih tiap anak kan pasti syg sama ortu nya :)

      Hapus
  3. another hero who never give up.. semangat neng. :))

    BalasHapus
  4. Hmmm, saya hanya bisa mendoakan semoga Bapak dan Ibumu selalu sehat-sehat saja kakak...

    BalasHapus