Jumat, 13 Februari 2015

Abstrak.



Entah kenapa gue sering banget sariawan. Keseringan malah ! sekali sariawan bisa berminggu-minggu. Parahnya ini sariawan selalu berada dilokasi yang sama, disamping gigi geraham paling belakang, jadi kalo ngunyah suka kegigit gigi. Sakit ? banget !
Sariawan juga berdampak banget sama kelancaran ngomong gue. Yang biasanya ngomong gapake titik koma sekarang malah pakai jurus mogok ngomong. Abisan buka mulut dikit aja itu sariawan kesenggol gigi. Huft banget.
Oya hari ini gue mau adventure -andventure ?- ke Tanah Bumbu bareng mama sama tante-tante gue ke kawinan kaka sepupu gue disono. Doain gue pulang ke Banjarmasin masih lengkap tanpa satu anggota badan pun tertinggal terutama hati ya. yakali aja gue kecantol om-om disono hehe.
Sekitar tiga hari aja sih kesana. Tapi sebenernya gue males banget ikut. Bukan, bukan males karena disana gue bakal ditanyain “kapan nyusul”, bukan, tapi karena hari minggu nanti gue mau ikutan acara Korea Festival di Banjarbaru. Oppa -cieeee oppa- gue Haris mau dance terakhir disana dia rencana mau pensiun dance cover karena udah ketuaan. Pan gue mau dukung doi joget disono ! mau kasih cheerleaders dibawah panggung. Hehe enggak bercanda.
Okelah sampai sini doang gue ngetik. Gue harus siapin hati karena besok dan besoknya lagi bakalan banyak pertanyaan “kapan nyusul” dari keluarga gue. Gue harus siapkan hati guys ! oke lebay.
Sorry curhatnya berantakan banget hehe gue ngetik dikejer waktu sambil packing ini, gatau juga kenapa gue ngerasa harus nulis something ke ini blog sekarang juga didetik ini juga mungking karena besok-besok bakalan susah jaringan disana HUFFTTT!!!. gue kan enggak pernah ambil paket internet HUUFFTT!!!! kalau katanya Raditya Dika sih gapapa tulisan jelek daripada enggak nulis sama sekali, betul kan ya >. See you soon !!!!!

Bonus : foto penghilang tikus dikamar. hestek #munpungadahptemen #camera360 #celfiduyuuu


Kamis, 05 Februari 2015

Mati rasa


Berbulan-bulan mati rasa mengajari ku bahwa tidak merasakan apapun adalah hak terbaik yang pernah ku alami dalam hidupku. Setidaknya dengan memiliki hati beku tidak akan membuatku tersakiti oleh siapapun.
Hidup tanpa cinta tak seburuk yang terlihat jika kau sudah menjalaninya selama berbulan-bulan lamanya.
Nikmati saja.
Karna makin lama hanya akan merasakan perasaan hampa.
Tidak senang, tidak sedih. Hanya hampa.
Seperti melewati terowongan panjang, sunyi dan gelap. Berada disana membuatmu takut melangkah tapi kalau sudah terbiasa dalam kesunyian dan berteman dengan gelap. Kau akan taku silau karena melihat cahaya lagi bukan ?
Mati rasa merupakan keresahan yang menyenangkan.
Bukan berarti mati rasa lalu aku tak pernah merasakan cinta. Hanya belum. Belum benar-benar ada pria yang berhasil membuatku mengakui aku cinta. Ya beberapa datang silih berganti menggerakkan hati ke arah suka dan .. hilang. Membawa kehampaan yang baru.
Aku hanya takut merasakan sakit karena itu aku tak ingin cinta. Hey mati rasa, oh kau penyelamatku. Kalaupun jujur, jauh dari semua kehampaan ini aku berharap seseorang menghidupkan rasa ini lagi sekali lagi.

Suka kah ?


Aku bermimipi buruk secara berurutan dalam beberapa minggu ini. Damn !
Sebenarnya bukan sebuah mimpi buruk, bahkan itu adalah mimpi yang sangat indah. Hanya saja aktor tampan dalam mimpi ku yang membuatnya menjadi mengerikan.
Mimpi indah yang buruk ? iya, buruk karena begitu bangun aku harus teringat lagi pada aktor tersebut dan merasakan hmm.. hampa ?
Sesungguhnya tidur merupakan kegiatan paling aku cintai nomer dua setelah makan. Tapi kalau aku memimpikannya  lagi ? What should I do ? Aku tidak ingin sakit karena mengetahui hal indah bersamanya hanyalah mimpi belaka.
Aku jadi punya sindrom baru, yang menamainya sesuai nalarku. Takut memejamkan mata dan tertidur. Benar-benar melelahkan karena aku yang pada dasarnya sudah memiliki penyakit insomnia dan penyakit susah tidur itu semakin menjadi-jadi.
Aktor tampan tersebut sebenarnya bukan siapa-siapa melainkan hanya seorang pria “temanku”. Sebenarnya kami cukup dekat, berteman dan bercengkrama hingga tangannya melingkar dipundakku dan tanganku melingkari pinggang cungkringnya. Dan kemudian aku merasakan perasaan asing mulai datang. Suka kah ?
Entah.

Rabu, 04 Februari 2015

Kuliah.

Banyak perubahan yang terjadi ketika saya sudah resmi menjadi seorang mahasiswi. Mulai dari jam tidur yang tidak teratur, pola makan berubah, serta selalu dikejar deadline tugas. Saya merasa agak tertekan dan pusing secar terus-menerus. Tapi disamping semua itu, ya, saya bahagia.
Saya bahagia mendapat teman-teman baru yang luar biasa peduli dan kami tidak sungkan untuk melakukan hal gila bersama-sama. Gengsi ? tak pernah ada kalimat itu dalam kamus kami, itu adalah persamaan dasar yang membuat kami bisa secepat ini akrab.
Kehidupan kampus ternyata sangat menyenangkan. Saya yang sebelumnya sudah terbiasa dengan sistem moving class tidak merasa canggung sedikit pun menerapkannya juga selama perkuliahan. Lari-lari mencari ruang kelas bukan hal asing lagi. Namun hal yang paling terasa adalah ketika saya bangun pagi-pagi untuk mengikuti kelas yang jelas-jelas dijadwal dipampangkan tepat pukul 08.30, harus molor bisa sampai satu jam lamanya. Ternyata benar, yang namanya di PHP –Pemberi Harapan Palsu- dosen tidak enak. Bahkan kata teman saya “Please, tolong. Cukup cowok yang suka PHP, dosen jangan !!”
Memang benar-benar menyebalkan. Dalam sehari bahkan bukan hanya satu dosen yang menerapkan sistem PHP, saya hanya bisa pasrah. Kebanyakan teman-teman saya menyukai ketika dosen tidak masuk. tetapi saya tidak. Dosen tidak masuk artinya saya harus menunggu jadwal dosen selanjutnya dalam rentang waktu yang lumayan lama. Rumah jauh membuat saya harus tetap duduk manis dikampus untuk menunggu kelas selanjutnya.
Tapi harus saya akui bahwa sistem pemPHPan ini sedikit menguntungkan bagi saya. Saya kesulitan dalam mengatur waktu dan itu membuat saya hampir selalu terlambat disemua jadwal kelas saya. Dosen PHP dan molor waktu masuk ? saya selamat. Tapi kalau dosen rajin ? saya pun harus menebalkan muka dan mengetuk pintu secara lembut dan berkata “Maaf, saya terlambat. Saya masih boleh ikut mata perkuliahan anda ?”
Terlambat tidak semenyenangkan yang terlihat, apalagi kalau terlambat secara rutin. Teman-teman sudah tidak asing lagi melihat satu bangku kosong dan sudah tidak menunggu saya lagi untuk duduk manis menunggu dosen dan memulai perkuliahan. Tapi dibalik semua itu, saya benar-benar menikmati masa kuliah walaupun memang benar masa putih abu-abu lah fase terbaik dalam hidup saya selama ini.

Kurus sama dengan seksi.

Banyak cowok yang rela capek-capek nge-gym buat mendapatkan tubuh berisi dan berotot, bahkan ada yang rela mengkonsumsi telur mentah dan susu pembentukan otot. Hemm buat apa ? seksi ? kebanyakan cewek pun memuja-muja cowok yang mempunyai otot lengan dan otot perut six pack yang menurut mereka gentlemen.
Kok gue malah beda ya. Haha serius gue enggak suka cowok berotot. Gue suka cowok kurus kerempeng dengan pinggul yang ramping. Menurut gue itu seksi banget. Apalagi ramping tinggi kayak body nya GDragon, he is perfeck.
Gue bisa apa ? bukan selera gue dong yang aneh. Atau karena faktor badan gue juga runcing ke atas ? gue suka ngeri sendiri liat badannya Ade Rai yang gede kayak raksasa itu. ngebayangin aja serem hih !
Temen gue lain lagi. Dia suka cowok yang gempal berisi. “Enak buat dipeluk” alesannya. Menurut gue cowok kurus lah yang enak. Dipeluk langsung berasa badannya. Kalo meluk yang gendut kan ngerasain lemaknya dulu muehehe.
Kalau cewek lain pertama kali merhatiin muka cowok, gue beda. Yang pertama gue perhatiin itu pinggang, kaki sama lengannya. Enggak tau apa alasannya liat cowok “lidi” itu punya keseksian tersendiri menurut gue. Padahal apaan isi badannya tulang semua. Tapi, semua orang memiliki tipe idealnya masing-masing, bukan ?
Gue sering kaget pas kedapatan megangin pinggul cowok dan gue ngomong diluar kesadaran gue. “gila pinggang lu kecil amat”. Kesannya kayak menghina ya ? seakan-akan nyuruh dia buat nambah berat badan. Padahal itu ucapan repleks karena gue kagum. Hehe. I’m a weird girl. Pokoknya prinsip gue cowok kurus tinggi itu seksi.