Minggu, 03 Mei 2015

Sang Hati Beku.



Rasa itu telah usang, rasa itu cinta. Hingga ia datang mengubah usang menjadi terang. Ia pun ku sebut cahaya ku.

Sudah berbulan-bulan aku memutuskan untuk menutup hati, mati rasa. Perpisahan yang terakhir membuatku bertahan untuk sendiri. Bukan, bukan karena aku tidak bisa melupakan masa laluku sehingga keputusan ini yang ku ambil, aku hanya berusaha untuk tak tersakiti lagi.
Hari berganti hari, bertemu minggu hingga kemudian menjadi bulan. Tak jua satu pun pria bisa menekukkan hatiku. Aku mati rasa ? Tidak, ini lebih dari itu. Hati ini beku.
Dan kemudian aku bertemu dengan dia. Pria dengan hati beku pula, dan ku sadari kami telah sama-sama luluh lewat canda tawa oleh pertemuan setiap hari dan dilanjutkan oleh chatting tiap malamnya.
Dia yang selalu menyebutku Sekarnya, Sekar yang jelek namun yang ia sukai.
Aku mencintainya.
Aku menyukai caranya memanggilku, membuatku tertawa, menggenggam tanganku. Aku pun menyukai kumisnya, matanya yang sipit pula lembut suara dan gelak tawa nya yang meledak-ledak.
Kemudian aku menunggu. Menunggu hatiku dan hatinya siap membangun hubungan kembali. Karena menunggu sesuatu hal yang indah itu menyenangkan, dan aku akan siap untuk menyambut cinta yang baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar